WE’RE SO SPECIAL!!

April 15th, 2005 by pmkhukumugm

Batu dan Mutiara
Message:Pada suatu ketika, hiduplah
seorang pedagang
batu-batuan. Setiap hari dia berjalan dari kota
ke
kota untuk memperdagangkan barang-
barangnya
itu. Ketika dia sedang berjalan menuju ke
suatu
kota, ada suatu batu kecil di pinggir jalan
yang
menarik hatinya. Batu itu tidak bagus, kasar,
dan
tidak mungkin untuk dijual. Namun pedagang
itu
memungutnya dan menyimpannya dalam
sebuah
kantong, dan kemudian pedagang itu
meneruskan
perjalanannya.

Setelah lama berjalan, lelahlah pedagang itu,
kemudian dia beristirahat sejenak. Selama
dia
beristirahat, dia membuka kembali
bungkusan
yang
berisi batu itu. Diperhatikannya batu itu
dengan
seksama, kemudian batu itu digosoknya
dengan
hati-hati batu itu. Karena kesabaran
pedagang itu,
batu yang semula buruk itu, sekarang terlihat
indah
dan mengkilap. Puaslah hati pedagang itu,
kemudian dia meneruskan perjalanannya.

Selama dia berjalan lagi, tiba-tiba dia melihat
ada
yang berkilau-kilauan di pinggir jalan. Setelah
diperhatikan, ternyata itu adalah sebuah
mutiara
yang indah. Alangkah senangnya hati
pedagang
tersebut, mutiara itu diambil dan disimpannya
tetapi
dalam kantong yang berbeda dengan
kantong
tempat batu tadi. Kemudian dia meneruskan
perjalanannya kembali.

Adapun si batu kecil itu merasa bahwa
pedagang
itu begitu memperhatikan dirinya, dan dia
merasa
begitu bahagia. Namun pada suatu saat
mengeluhlah batu kecil itu kepada dirinya
sendiri. "Tuan begitu baik padaku, setiap hari
aku
digosoknya walaupun aku ini hanya sebuah
batu
yang jelek, namun aku merasa kesepian. Aku
tidak
mempunyai teman seorangpun, seandainya
saja
Tuan memberikan kepadaku seorang
teman".
Rupanya keluhan batu kecil yang malang ini
didengar oleh pedagang itu. Dia merasa
kasihan
dan kemudian dia berkata kepada batu kecil
itu "Wahai batu kecil, aku mendengar keluh
kesahmu, baiklah aku akan memberikan
kepadamu
sesuai dengan yang engkau minta". Setelah
itu
kemudian pedagang tersebut memindahkan
mutiara
indah yang ditemukannya di pinggir jalan itu
ke
dalam kantong tempat batu kecil itu berada.

Dapat dibayangkan betapa senangnya hati
batu
kecil itu mendapat teman mutiara yang indah
itu.
Sungguh betapa tidak disangkanya, bahwa
pedagang itu akan memberikan miliknya
yang
terbaik kepadanya. Waktu terus berjalan dan
si
batu dan mutiara pun berteman dengan
akrab.
Setiap kali pedagang itu beristirahat, dia
selalu
menggosok kembali batu dan mutiara itu.
Namun
pada suatu ketika, setelah selesai
menggosok
keduanya, tiba-tiba saja pedagang itu
memisahkan
batu kecil dan mutiara itu. Mutiara itu
ditempatkannya kembali di dalam kantongnya
semula, dan batu kecil itu tetap di dalam
kantongnya sendiri. Maka sedihlah hati batu
kecil
itu. Tiap-tiap hari dia menangis, dan
memohon
kepada pedagang itu agar mengembalikan
mutiara
itu bersama dengan dia. Namun seolah-olah
pedagang itu tidak mendengarkan dia.

Maka putus asalah batu kecil itu, dan di
tengah-
tengah keputusasaannya itu, berteriaklah dia
kepada pedagang itu "Oh tuanku, mengapa
engkau
berbuat demikian ? Mengapa engkau
mengecewakan aku ?"

Rupanya keluh kesah ini didengar oleh
pedagang
batu tersebut. Kemudian dia berkata kepada
batu
kecil itu "Wahai batu kecil, kamu telah
kupungut
dari
pinggir jalan. Engkau yang semula buruk kini
telah
menjadi indah. Mengapa engkau mengeluh ?
Mengapa engkau berkeluh kesah ? Mengapa
hatimu berduka saat aku mengambil mutiara
itu
daripadamu ? Bukankah mutiara itu miliku,
dan
aku
bebas mengambilnya setiap saat menurut
kehendakku ? Engkau telah kupungut dari
jalan,
engkau yang semula buruk kini telah menjadi
indah.
Ketahuilah bahwa bagiku, engkau sama
berharganya seperti mutiara itu, engkau telah
kupungut dan engkau kini telah menjadi
milikku
juga.

be a light

April 14th, 2005 by pmkhukumugm

Disebuah kota kecil, seorang
pemuda memulai
bisnisnya sendiri, sebuah toko kecil di
tikungan
jalan. Dia orang yang baik, ramah dan jujur.
Orang-
orang menyukainya. Mereka membeli
barangnya
dan menceritakan kebaikannya si pemuda
kepada
teman-temannya. Bisnis pemuda itu lama-
kelamaan
semakin pesat dan ia meluaskan usahanya
hingga
ke pelosok pantai timur hingga pantai barat.

Pada suatu hari, dia sakit dan harus dirawat
di
rumah sakit. Dokter mengkhawatirkan bahwa
waktu hidupnya tak akan lama lagi. Ia
mengumpulkan ketiga anaknya dan
memberikan
mereka tantangan yaitu:

“salah satu dari kalian akan menjadi
pemimpin
perusahaan ini yang sudah aku bina. Selama
bertahun-tahun, untuk menentukan siapa dari
kalian
yang pantas untuk mendapatkannya maka
aku
akan memberikan kalian masing-masing
uang satu
dollar. Pergilah dan belanjakanlah uang itu
untuk di
belikan apapun yang kalian suka. Tetapi
kalau
nanti
sore kalian kembali aku ingin kalian
kembali menemui bapak di rumah sakit ini,
barang
yang kalian beli dengan uang satu dollar itu
harus
dapat memenuhi kamar ini dari ujung ke
ujung.”

Ketiga anaknya amat bersemangat ketika
mendengar terbukanya kesempatan untuk
menjadi
pemimpin perusahaan yang sukses itu.
Masing-
maisng pergi ke kota dan membelanjakan
uangnya
yang satu dollar itu. Ketika mereka kembali
pada
sore harinya, sang bapak bertanya,” anak-
anakku,
apa yang kalian lakukan dengan uang satu
dollar
itu?”

“Begini pak”, jawab anak mereka yang
pertama, ”
saya pergi kepeternakan, memberikan uang
itu
kepada penjaga di sana dan membeli dua
bal
jerami”. Lalu Jerami itu dibuka dan di
tebarkan ke
udara. Selama beberapa saat kamar itu
dipenuhi
jerami. Tetapi tak lama kemudian, jerami itu
berjatuhan menutupi lantai. Ternyata jerami
itu
tidak
cukup menutupi lantai dari ujung-ujung,
sebagaimana yang diminta oleh ayahnya.

“Nah, anakku yang kedua, apa yang kamu
lakukan
dengan uang satu dollar itu?”, tanya sang
ayah. “Saya ke (Toko serba ada), pak” jawab
sang
anak. ” Di sana saya membeli dua bantal dari
bulu
burung”, lalu kedua bantal itu di bawa masuk
dan
isinya ditebarkannya pula ke seluruh
ruangan.
Namun tak lama kemudian, semua bulu
burung itu
jatuh ke lantai dan kamar itu tidak tertutupi
sempurna dengan bulu burung itu.

“Anakku yang ketiga”, kata sang ayah “apa
yang
kau lakukan dengan uang satu
dollarmu ?”,tanyanya lagi. “Saya
membawanya ke
sebuah toko kecil seperti dahulu bapak
pertama
kali
membuka toko, bertahun-tahun yang lalu”,
kata
sang anak. “saya berikan uang satu dolar
saya
dan menukarnya dengan uang receh, saya
menanamkan 50 sen saya dalam sesuatu
yang
berharga, persis yang di katakan kitab suci,
saya
berikan 20 sen pada panti asuhan, dan 20
sen
sisanya saya berikan pada gereja. Sisanya
yang
10 sen saya belikan dua macam barang”,
jawab
sang anak. Lalu sang anak merogoh
kantongnya
dan mengeluarkan sekotak korek api dan lilin
kecil.
Dia mematikan lampu dan menyalakan lilin
itu.
Kamar di penuhi cahaya dari ujung ke ujung,
bukan
oleh bulu burung atau jerami , melainkan
oleh
cahaya yang berasal dari lilin itu.

Ayahnya sangat gembira,” selamat anakku,
kamu
akan menjadi pemimpin di perusahanku,
karena
kamu telah memahami pelajaran yang
penting
dalam
hidup ini, kamu telah mengerti bagaiamana
hati
nurani mu bersinar, menerangi semua yang
ada di
sekitarmu.”

Dan sang anak nya yang ketiga itupun
menggantikan ayahnya menjadi pemimpin di
perusahan itu. Oleh karena yang utama
bukan
kepandaian tetapi Hati Nurani sesorang yang
bercahaya bagai pelita lilin yang menerangi
sekitarnya yang gelap.

Matius 5:16

“Demikianlah hendaknya terangmu
bercahaya di
depan orang, supaya mereka melihat
perbuatanmu
yang baik dan memuliakan bapamu yg ada di sorga”